Negara yang pernah terjajah oleh imperialisme kolonialisme yang tidak memberikan kesempatan rakyat yang terjajah untuk pintar, makin mengeksploitasi rakyat untuk menjadi budak, menghisap kekayaan sumber daya alam tanpa memberikan kompensasi, memecah belah persatuan, mendikotomikan antara ulama dan umaroh, antara ilmuwan dengan agamawan dirasakan telah membuat negara yang terjajah semakin ketinggalan untuk maju dan bangkit kembali menjadi negara yang disegani. Contohnya negara indonesia, telah dijajah belanda selama 350 tahun tetapi sampai sekarang rakyat indonesia tidak bisa bahasa belanda atau inggris, rakyat mudah terprovokasi dengan isu sehingga disana-sini terjadi tawuran, budaya gotong royong, musyawarah untuk mufakat tekah diganti dengan budaya voting, Sesuatu yang salah bisa menjadi benar manakala bisa menguasahi media untuk membentuk opini publik. Atas nama HAM dan demokrasi telah menjadi tuhan untuk menghalalkan semua tujuan. Kita tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu, dan seperti keledai yang masuk lobang berkali-kali. Keberanian dan spirit untuk bersaing secara sehat semakin ditinggalkan, diganti dengan cara instan untuk mencapai tujuan dengan kolusi dan nepotisme serta siapa yang mampu membayar yang bisa lolos dalam persaingan. Spirit kompetisi telah pudar di dunia pendidikan yang notabene media untuk memproses SDM yang berkualitas,dengan alasan bahwa kalau nilai diketati sesuai aturan, maka angka kelulusan rendah dan akan berdampak pada penerimaan murid baru di tahun depannya. Guru berusaha untuk memberikan obral nilai dan bahkan mengajari kecurangan pada siswanya, bagaimana nasib masa depan generasi bangsa kalau hal itu terus dibiarkan?.
Jati diri bangsa dan kepribadian serta rasa nasionalisme yang semakin pudar diganti dengan individualisme, neoliberalisme, kapitalisme, semangat musyawarah untuk mufakat telah berganti dengan voting, life style budaya kebarat-baratan seiring dengan membanjirnya produk impor telah merasuki generasi penerus. Budaya latah untuk meniru dan ikut apapun yang ditawarkan dan masuk ke negara tanpa filter perhitungan untung dan ruginya terus diikuti agar tidak dikatakan ketinggalan zaman tanpa memikirkan dampaknya terhadap kesiapan dan keberlanjutan usaha yang ada di dalam negeri telah menguntungkan pemberi tawaran, institusi lebih mementingkan gebyarnya saja atau casingnya saja dari pada substansi isinya agar dipandang wah.